TAPO dan Paradoks Baikonur
Narasi runtuhnya Tashkent Aircraft Production Organization atau TAPO kerap disederhanakan sebagai kegagalan sebuah negara pasca-Uni Soviet mengelola industri strategis. Padahal, cerita di balik kolapsnya pabrik pesawat raksasa itu jauh lebih kompleks dan sarat tarik-menarik geopolitik.
TAPO tidak serta-merta mati setelah Uni Soviet bubar pada 1991. Dalam beberapa tahun awal, pabrik ini masih beroperasi dan menyelesaikan produksi pesawat angkut berat Il-76, memanfaatkan tenaga insinyur dan teknisi warisan sistem pendidikan Soviet.
Masalah mulai muncul ketika rantai industri Soviet terfragmentasi menjadi negara-negara berdaulat. TAPO yang berlokasi di Uzbekistan sangat bergantung pada komponen, lisensi desain, dan sertifikasi teknis dari biro dan pabrik di Rusia.
Rusia, sebagai penerus utama industri militer Soviet, perlahan mengalihkan prioritasnya. Produksi Il-76 dipindahkan ke Ulyanovsk, wilayah Rusia, demi menjaga kontrol penuh atas industri strategis dan kontrak pertahanan nasional.
Keputusan ini membuat TAPO berada dalam posisi serba salah. Pabrik masih berdiri, tenaga ahli masih ada, tetapi pesanan mengering dan suplai komponen tersendat akibat kebijakan politik dan ekonomi baru Moskow.
Uzbekistan pada saat yang sama mendorong kemandirian industri nasional. Namun tanpa akses lisensi penuh dan tanpa kontrak jangka panjang, TAPO menjadi industri raksasa yang kehilangan oksigen.
Situasi ini sering disalahartikan sebagai kegagalan kapasitas sumber daya manusia. Padahal, persoalan utamanya adalah perubahan arsitektur industri pasca-Soviet, bukan ketidakmampuan teknis semata.
Fenomena serupa dapat dilihat pada Kazakhstan, negara yang mewarisi Baikonur Cosmodrome, bandara antariksa terbesar dan paling bersejarah di dunia. Dari wilayah inilah Uni Soviet dan Rusia meluncurkan satelit dan kosmonaut ke luar angkasa.
Meski memiliki fasilitas antariksa kelas dunia, industri antariksa Kazakhstan sendiri tak pernah benar-benar berkembang. Baikonur tetap beroperasi, tetapi sebagian besar aktivitasnya dikendalikan dan dibiayai Rusia melalui skema sewa jangka panjang.
Kazakhstan memiliki tanahnya, landasannya, dan infrastruktur dasar, namun tidak menguasai penuh teknologi peluncuran, desain roket, maupun ekosistem manufaktur antariksa yang mandiri.
Seperti TAPO, kasus Baikonur menunjukkan bahwa kepemilikan fisik tidak otomatis berarti kedaulatan industri. Tanpa kontrol teknologi dan pasar, fasilitas sebesar apa pun bisa menjadi simbol tanpa daya dorong ekonomi.
Perbedaannya, Baikonur masih hidup sebagai aset strategis global, sementara TAPO akhirnya berhenti total. Namun keduanya berbagi nasib serupa sebagai peninggalan Soviet yang tak sepenuhnya diwariskan secara fungsional.
Dalam dua kasus ini, Rusia tetap menjadi pusat gravitasi teknologi. Negara-negara bekas Uni Soviet lainnya lebih sering berperan sebagai lokasi, bukan aktor utama.
Inilah konteks yang sering hilang ketika TAPO dijadikan bahan ejekan politik, seolah kehancurannya mencerminkan rendahnya kapasitas nasional Uzbekistan. Kenyataannya, faktor eksternal jauh lebih dominan.
Analogi ini juga relevan untuk memahami perdebatan soal kemampuan negara mengoperasikan alutsista canggih. Gagal mempertahankan industri manufaktur besar tidak otomatis berarti tidak mampu melakukan pemeliharaan teknis.
Banyak negara di dunia tidak memproduksi pesawat tempur atau roket, tetapi tetap mampu mengoperasikan dan merawatnya melalui kontrak logistik dan pelatihan yang stabil.
Dalam konteks TAPO, yang runtuh bukan kompetensi teknisi, melainkan ekosistem industri yang terbelah oleh geopolitik. Begitu pula Kazakhstan, yang meski memiliki gerbang antariksa, tak pernah memegang kunci teknologinya.
Kedua kasus ini menegaskan bahwa warisan infrastruktur Soviet tidak selalu disertai warisan kekuasaan industri. Negara-negara penerus sering kali menerima bangunan, tetapi kehilangan sistem.
Akibatnya, publik kerap menyalahkan negara tempat fasilitas itu berada, tanpa melihat struktur kekuasaan ekonomi yang lebih luas. Narasi “mereka menghancurkan industrinya sendiri” menjadi alat politik yang menyesatkan.
Dalam kenyataannya, TAPO dan Baikonur adalah cermin dari transisi pasca-imperium yang timpang. Keduanya menjadi saksi bahwa industri strategis tidak runtuh karena kebodohan, melainkan karena perubahan pusat kendali.
Pada akhirnya, kisah TAPO dan Baikonur bukan hanya tentang pesawat dan roket, tetapi tentang bagaimana geopolitik menentukan siapa yang benar-benar mewarisi kekuatan teknologi Uni Soviet.




Tidak ada komentar