Jika Iran Membuat Zona Ekonomi dengan Mata Uang Lokal: Solusi atau Ilusi?
Iran tengah menghadapi tekanan ekonomi luar biasa akibat depresiasi rial dan sanksi internasional yang membatasi aksesnya ke pasar global. Dalam konteks ini, muncul wacana untuk membuat zona ekonomi dengan mata uang lokal sendiri, mirip konsep “special economic zones” (SEZ) di negara lain.
Ide utamanya adalah memisahkan kegiatan ekonomi tertentu dari tekanan ekonomi nasional. Misalnya, Qeshm Island bisa memiliki mata uang lokal yang digunakan untuk perdagangan dan transaksi di dalam zona, sementara rial tetap digunakan di Teheran dan wilayah lainnya.
Konsep ini bisa dibandingkan dengan Hong Kong, yang memiliki mata uang sendiri (dolar Hong Kong) meski secara politik berada di bawah Tiongkok. Hong Kong memiliki otoritas moneter independen, tetapi tetap terhubung dengan ekonomi nasional Tiongkok.
Keuntungan dari mata uang lokal di zona ekonomi Iran adalah fleksibilitas fiskal dan moneter. Harga barang, gaji, dan kontrak bisa disesuaikan dengan kondisi lokal tanpa tergantung pada depresiasi rial yang ekstrem.
Selain itu, zona ekonomi lokal bisa mempermudah investasi asing. Investor bisa melakukan transaksi dalam mata uang lokal tanpa harus menanggung risiko langsung dari fluktuasi rial nasional atau sanksi global.
Namun, ada batasan signifikan. Sanksi tidak hanya menargetkan rial, tapi juga entitas ekonomi, bank, dan transaksi internasional. Artinya, meski Qeshm Island punya mata uang sendiri, ekspor atau perdagangan luar negeri tetap akan menghadapi hambatan jika melibatkan sistem perbankan global.
Mata uang lokal di zona ekonomi juga tidak otomatis diterima di luar zona, sehingga perdagangan dengan wilayah lain di Iran atau dengan negara lain tetap memerlukan konversi, berpotensi memunculkan risiko nilai tukar baru.
Jika zona terlalu kecil atau terisolasi, kontribusinya terhadap cadangan devisa dan stabilitas nasional tetap terbatas. Efeknya mungkin hanya bersifat lokal dan sementara.
Pengalaman Hong Kong menunjukkan bahwa mata uang lokal bisa stabil jika didukung sistem kepercayaan tinggi, inflasi rendah, dan arus perdagangan yang konsisten. Tanpa itu, mata uang zona ekonomi berisiko menghadapi spekulasi dan depresiasi.
Kepercayaan publik dan investor menjadi kunci. Jika masyarakat masih ragu terhadap nilai mata uang lokal, mereka bisa tetap menukar ke dolar, emas, atau aset lain, sehingga tujuan zona ekonomi gagal.
Zona ekonomi juga memerlukan bank sentral mini atau otoritas moneter lokal. Tanpa pengawasan yang kredibel, risiko inflasi, manipulasi, dan korupsi akan tinggi.
Dalam konteks Iran, zona ekonomi bisa memisahkan sebagian aktivitas perdagangan dan industri dari tekanan rial, tetapi tidak menyelesaikan masalah mendasar: defisit fiskal, inflasi tinggi, dan tekanan sanksi.
Solusi praktis lain adalah menggunakan mekanisme barter atau sistem mata uang bilateral dengan negara sahabat untuk ekspor minyak dan produk strategis, sambil tetap menjaga mata uang lokal zona.
Dengan cara ini, zona ekonomi dapat menjadi laboratorium eksperimen ekonomi, mirip Hong Kong, tanpa harus sepenuhnya mengisolasi ekonomi nasional.
Risiko lain adalah fragmentasi ekonomi. Banyak mata uang lokal bisa membuat perdagangan domestik sulit, karena perusahaan harus menghitung konversi mata uang di tiap zona, memunculkan biaya tambahan dan risiko arbitrariness nilai tukar.
Contoh Venezuela menunjukkan bahwa zona lokal yang terpisah tetap tidak kebal terhadap depresiasi mata uang nasional jika ekonomi tetap bergantung pada ekspor ke pasar global.
Di sisi geopolitik, zona ekonomi lokal dapat meningkatkan daya tarik investasi regional dan memperluas hubungan perdagangan dengan negara yang mau menerima mata uang lokal, meski tetap harus menghindari sanksi.
Jika berhasil, konsep ini bisa menjadi alat stabilisasi mikro, melindungi sebagian aktivitas ekonomi dari tekanan rial dan inflasi tinggi, serta memberi ruang bagi reformasi ekonomi lebih luas.
Namun, tantangan utama tetap ada: skala terbatas, kepercayaan pasar, dan integrasi dengan ekonomi nasional serta pasar internasional yang dibatasi sanksi.
Kesimpulannya, membuat mata uang lokal di zona ekonomi Iran bisa mengurangi tekanan lokal dan memberi fleksibilitas, mirip Hong Kong yang punya dolar sendiri, tetapi tidak membuat negara kebal sanksi ekonomi. Keberhasilan hanya mungkin jika dikombinasikan dengan reformasi fiskal, kontrol inflasi, dan strategi perdagangan internasional yang cermat.




Tidak ada komentar