Breaking News

Peta Media Kurdi dan Arah Politik

Media Kurdi di Irak dan jaringan Kurdi global tidak berdiri sebagai satu suara tunggal. Di balik kesamaan identitas etnis, terdapat perbedaan politik, ideologi, dan kepentingan yang tajam, yang tercermin jelas dalam garis redaksi berbagai media Kurdi.

Di Kurdistan Irak, media berkembang seiring terbentuknya Otoritas Regional Kurdistan yang semi-otonom. Sejak awal, media tidak hanya berfungsi sebagai penyampai berita, tetapi juga alat legitimasi politik bagi partai-partai utama Kurdi.

Kelompok media yang paling dominan secara historis adalah yang dekat dengan Partai Demokrat Kurdistan atau KDP. Media-media ini umumnya berbasis di Erbil dan Dohuk, dan sering menampilkan narasi Kurdi yang pragmatis, pro-pemerintahan regional, serta relatif bersahabat dengan Turki dan Barat.

Media yang berafiliasi atau simpatik terhadap KDP cenderung kritis terhadap PKK dan cabang-cabangnya di Suriah. Mereka kerap menyoroti dampak negatif konflik bersenjata terhadap stabilitas Kurdistan Irak dan ekonomi regional.

Di sisi lain, terdapat media yang dekat dengan Persatuan Patriotik Kurdistan atau PUK, yang basis kekuatannya berada di Sulaymaniyah. Media-media ini biasanya lebih plural dalam narasi, namun tetap mencerminkan kepentingan elite politik setempat.

PUK secara historis memiliki hubungan yang lebih kompleks dengan Iran dan kelompok Kurdi lintas batas. Hal ini membuat sebagian media di Sulaymaniyah relatif lebih lunak terhadap kelompok Kurdi bersenjata non-negara dibanding media di wilayah KDP.

Selain media partai, muncul pula media independen yang berusaha menjaga jarak dari kekuatan politik utama. Namun dalam praktiknya, keterbatasan pendanaan membuat independensi ini sering kali bersifat relatif dan rentan terhadap tekanan.

Di luar Irak, jaringan media Kurdi global memiliki karakter yang lebih ideologis. Media yang berafiliasi dengan PKK dan lingkar Öcalan aktif di Eropa, Suriah utara, dan diaspora Kurdi di Jerman, Prancis, serta Skandinavia.

Media jenis ini menekankan narasi perlawanan, konfederalisme demokratik, dan perjuangan lintas negara. Mereka memosisikan diri sebagai suara Kurdi tertindas yang melawan negara-negara nasional di Timur Tengah.

SDF dan PYD di Suriah mendapatkan dukungan naratif kuat dari jaringan media ini. Kritik terhadap mereka jarang muncul, sementara pelanggaran atau kontroversi sering dibingkai sebagai bagian dari situasi perang.

Sebaliknya, media Kurdi Irak yang anti-PKK melihat jaringan media global tersebut sebagai ancaman terhadap stabilitas regional. Mereka menilai ideologi PKK membawa konflik berkepanjangan dan memperburuk hubungan Kurdi dengan negara-negara tetangga.

Perbedaan ini semakin tajam ketika menyangkut isu Suriah. Media Kurdi Irak sering menyoroti kebijakan SDF di wilayah Arab, sementara media pro-PKK lebih menekankan legitimasi militer dan peran mereka melawan ISIS.

Bangawaz TV dan beberapa media sejenis termasuk dalam kelompok Kurdi Irak yang kritis terhadap SDF. Mereka sering mengangkat isu pelanggaran HAM, dominasi satu partai, dan ketegangan etnis di Suriah utara.

Di tingkat global, media Kurdi juga dipengaruhi oleh kepentingan negara tempat mereka beroperasi. Media diaspora di Eropa cenderung menggunakan bahasa HAM dan demokrasi untuk menarik simpati internasional.

Sementara itu, media Kurdi di Timur Tengah lebih realistis dan terbuka mengenai kompromi politik, aliansi regional, serta batas-batas kekuatan Kurdi dalam sistem negara yang ada.

Fragmentasi media ini mencerminkan realitas politik Kurdi yang terpecah. Tidak ada otoritas tunggal yang mengontrol narasi, sehingga setiap media berbicara kepada audiens dan kepentingannya masing-masing.

Bagi pembaca luar, perbedaan ini sering membingungkan. Satu peristiwa yang sama bisa diberitakan sebagai kemenangan bersejarah oleh satu media, dan sebagai kesalahan fatal oleh media Kurdi lainnya.

Pola ini terlihat jelas dalam isu pembakaran arsip, konflik internal, hingga hubungan dengan Damaskus dan Ankara. Media menjadi cermin ketakutan, harapan, dan strategi politik masing-masing kubu Kurdi.

Keberagaman media Kurdi pada akhirnya menunjukkan bahwa persoalan Kurdi bukan semata soal identitas etnis, melainkan perebutan arah politik masa depan. Media memainkan peran sentral dalam membentuk persepsi tersebut.

Dengan memahami aliansi dan garis redaksi media Kurdi, publik dapat membaca berita secara lebih kritis. Di balik setiap laporan, terdapat kepentingan yang berusaha memengaruhi bagaimana perjuangan Kurdi dipahami dunia.

Tidak ada komentar